Senin, 20 Februari 2012

proses pengolahan lateks


PROSES PENGOLAHAN CAIRAN LATEKS MENJADI LEMBARAN KARET
DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO)

Karya Tulis Ilmiah
Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Syarat –Syarat
Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Analis Kimia Industri

Oleh :
Marrits Davitra
NIM: 572008003



Progam Profesional Analis Kimia Industri
Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga
2011
KATA PENGANTAR
Shalom…..
         Puji Tuhan atas segala berkat yang telah di berikan oleh Tuhan Yesus Kristus sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dan penulisan karya tulis ilmiah ini dengan melaksanakan observasi di PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero).
         Maksud dari penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai upaya untuk memberikan wawasan bagi mahasiswa guna melihat secara langsung proses pengolahan dan pemantauan pengolah lateks menjadi lembaran karet di PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero). Serta merupakan salasatu tugas untuk proses penyelesaian kuliah untuk mendapatkan gelar Amd
            Penulisan laporan ini dapat terselesaikan berkat doa, semangat, bimbingan, bantuan, dukungan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
  1. Yohanes Martono S.Si., M.Sc., selaku kaprogdi kimia, yang telah banyak membimbing serta memberi saran-saran dalam penyelesaian laporan PKL ini.
  2. Dra. Lusiawati Dewi M.Sc., selaku dekan FSM.
  3. Ir. Sri Hartini M.Sc., selaku pembimbing dan kelonggaran yang diberikan selama menyelesaikan laporan ini.
  4. Dra. Susanti Puji Hastuti M.sc., selaku wali mahasiswa.
  5. Bapak Julianus Mamoribo selaku mandor kepala sekaligus pembimbing lapangan dalam proses kuliah lapang, yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan.
  6. Bapak Joko Untoro selaku mandor pengolahan sekaligus pembimbing lapangan dalam proses kuliah lapang, yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan.
  7. Bapak Sujoko selaku sinder Teknik-Teknologi sekaligus pembimbing lapangan dalam proses kuliah lapang.
  8. Erwin Bimayanto yang merupakan teman satu-satunya dalam proses kuliah lapang.
  9. Mama,papa,ngkai,nene,om,tante dan seluruh keluarga besar saya yang selalu mendukung saya
  10. Anasatasia Mirra octaviani S. Psi selaku pacar saya yang selalu mendukung dan memberi semangat
  11. Teman – teman Ikatan Keluarga Pelajar Poso Salatiga (IKMAPPOS) yang selalu mendukung saya

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyelelesaian laporan ini, seperti kata pepatah ”tak ada gading yang tak retak”, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga laporan PKL ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Apabila terdapat banyak kesalahan dalam penyelesaian laporan ini, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Tuhan Memberkati……


Salatiga, November 2011

Penulis





DAFTAR ISI

Halaman judul ………………………………………………………………………            1
Kata pengantar ………………………………………………………………………           3
Daftar isi …………………………………………………………………………….           5
Daftar gambar……………………………………………………………………….            8

BAB I PENDAHULUAN
1.1.                   Latar belakang ………………………………………………………          9
1.2.                   Tujuan ………………………………………………………………           10
1.3.                   Waktu dan Tempat kegiatan ………………………………………..           10

BAB II GAMBARAN UMUM KEBUN GETAS
2.1.         Sejarah Pendirian Perusahaan………………………………………..           11
2.2.         Tujuan Pendirian Perusahaan ………………………………………..           13
2.3.         Budaya Perusahaan…………………………………………………..           14
2.4.         Tingkatan Jabatan Dalam Organisasi ………………………………..           14

BAB III TINJAUAN PUSTAKA
3.1.         Kandungan Lateks…………………………………………………….         16
3.2.         Biosintesis Karet………………………………………………………         17       
3.3.         Mastikasi ……………………………………………………………...         18
3.4.         Prakoagulasi …………………………………………………………..         18


BAB IV PROSES PENGOLAHAN KARET
4.1.         Proses Pembentukan Lembaran Karet……………………………                21
            4.1.1. Penyadapan …………………………………………………              21
            4.1.2. Pengangkutan Lateks Segar ………………………………                 22
            4.1.3. Penerimaan Lateks …………………………………………               22
            4.1.4. Ketersediaan Air Bersih ……………………………………               23
            4.1.5. Pengaliran Cairan Lateks ……………………………………             23
            4.1.6. Proses Penggumpalan ………………………………………              24
            4.1.7. Proses Penggilingan …………………………………………             26
4.2.         Proses Pengasapan ………………………………………………                27
4.3.         Sortasi ……………………………………………………………………    28
4.4.         Pengepakan ………………………………………………………………    28
4.5.         Pengiriman ……………………………………………………………….    29

BAB V PEMBAHASAN
5.1.         Pengolahan Lingkungan …………………………………………………..  30
5.2.         Proses Pembentukan Lembaran Karet …………………………………       31
            5.2.1. Ruangan Pembentukan lembaran karet dan Karyawan pabrik……     31
            5.2.2. Pengolahan Lateks …………………………………………              32
5.3.         Sortasi …………………………………………………………………….   35

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.         Kesimpulan ……………………………………………………………….   41
6.2.         Saran ……………………………………………………………………      41
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1        :           Poliisopren
Gambar 2        :           Biosintesis karet
Gambar 3        :           Proses penyadapan
Gambar 4        :           Bak penampung dengan sekat
Gambar 5        :           Proses pengadukan
Gambar 6        :           Lembaran karet basah
Gambar 7        :           Kamar asap
Gambar 8        :           Proses pengepakan
Gambar 9        :           Skema peralatan untuk uji ultrasonic
Gambar 10      :           Peralatan FTIR untuk analisis komposisi kimia
Gambar 11      :           Peralatan uji kimia kelarutan dan kadar sulfur bebas



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (dikenal sebagai latex) yang diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet tetapi dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari latex yang digunakan untuk menciptakan karet adalah pohon karet Hevea brasiliensis. Latex diperoleh dengan cara melukai kulit pohon sehingga pohon akan memberikan respons yang menghasilkan lebih banyak latex lagi.
Karet adalah polimer dari satuan isoprena (politerpena) yang tersusun dari 5000 hingga 10.000 satuan dalam rantai tanpa cabang. Diduga kuat, tiga ikatan pertama bersifat trans dan selanjutnya cis. Senyawa ini terkandung pada lateks pohon penghasilnya. Pada suhu normal, karet tidak berbentuk amorf. Pada suhu rendah ia akan mengkristal. Dengan meningkatnya suhu, karet akan mengembang, searah dengan sumbu panjangnya. Penurunan suhu akan mengembalikan keadaan pengembangan  ini. Inilah alasan mengapa karet bersifat elastik.
Pengolahan karet memiliki posisi yang cukup penting dalam rangkaian agribisnis karet. Pengolahan karet menentukan nilai tambah yang di peroleh. Hasil sadapan yang baik, apabila tidak di olah dengan optimal akan mendapatkan harga yang rendah. Oleh karena itu pengolahan karet harus di perhatikan dengan baik, sehingga di peroleh hasil olahan karet yang bermutu dan berharga jual tinggi.
Dalam pengolahan karet, pasti akan ada  alat dan bahan yang di gunakan. Bahkan menurut buku (paduan karet lengkap) tidak semua karet yang di olah menggunakan alat dan bahan yang sama. Beberapa alat dan bahan  yang banyak di temukan dalam proses pengolahan karet antara lain, mesin penggiling, tangki atau bejana koagulasi, kayu bakar untuk rumah pengasapan, bahan bahan kimia, dan air (Anonim, 2007).
Selain itu karet juga merupakan  bahan utama pembuatan ban, beberapa Alat-alat kesehatan, alat-alat yang memerlukan kelenturan dan tahan goncangan. dibeberapa tempat salah satunya Perkebunan karet di Jember biji karet bisa dijadikan camilan dengan proses tetentu, rasanya gurih namun jangan berlebihan karena kadang membuat pusing kepala (Anonim, 2007)

1.2.       Tujuan
-          observasi lapangan ( pemanenan latex )
-          observasi laboratorium dan;
-          analisis laboratorium

1.3.       Waktu dan Tempat Kegiatan
Tempat pelaksanaan penelitian ini di laksanakan di PT. Perkebunan Nusantara IX (persero), kebun getas salatiga. Penelitian ini dilaksanakan selam satu bulan dari tanggal 14 november sampai dengan 14 desember 2011.













BAB II
GAMBARAN UMUM KEBUN GETAS
2.1.   Sejarah Pendirian Perusahaan
Kebun Getas  merupakan bagian dari  Perusahaan Terbuka Perkebunan Nusantara IX yang dimiliki oleh Negara atau disebut Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan hasil perkebunan. PTP Nusantara IX (Persero) – Kebun Getas mempunyai emplashememt atau kantor pusat yang berlokasidi Desa Pebelan, Kecamatan Kauman Lor Kabupaten Semarang Propinsi JawaTengah dan areal kerjanya terletak di Kabupaten Semarang Propinsi Jawa Tengah. Awal mula dari PT Perkebunan Nusantara IX merupakan kebun swasta milik Belanda dengan nama Firma MC. TH. Crone dan dinasionalisasikan pada tanggal 10desember 1957 oleh pemerintah RI dan diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN). Dengan adanya pengelompokan PPN maka kebun dibagi menurut jenis budidaya tanaman  yang  diusahakan  atau  dibudidayakan. 
Kebun Getas merupakan bagian dari PTPN IX  yang  mempunyai  kantor  direksi  di  Semarang dan mempunyai wilayah pengusahaan dan pembudidayaan di daerah Jawa Tengah. Setelah proses nasionalisasi selesai pada tahun 1964 maka Kebun Getas berada di bawah PPN Aneka Tanaman XI. Pada tanggal 1 Agustus 1973 terjadi perubahan status perusahaan dari PPN AnekaTanaman XI menjadi PTPN XVIII. Pada tahun 1980 terjadi penggabungan kebun, yaitu Kebun Ngobo  digabung  dengan  kebun  Jatirunggo dan Gebugan menjadi  nama  baru  yaitu  kebun  Ngobo/ Jatirunggo/ Gebugan,  berdasarkan  surat  No. XVIII/KPTS/135/1980 tertanggal 23 April 1980.
Pada tahun 1994 manajemen PTPN XVIII ditangani oleh direksi PTPN XXI-XXII, yang kemudian pada tanggal 11 Maret 1996 didirikan  PTPN IX  berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996, merupakan peleburan dari PTPN XV-XVI dan PTPN XVIII.  Pendirian PTPN IX tersebut tertuang pada Akta Notaris Harun Kamil, S.H. Nomor 42 tanggal 11 Maret 1996, yang disahkanoleh Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C2-8337.HT.01.01.TH.96 tanggal 8 Agustus1996, diubah dengan Akta Notaris Sri Rahayu Hadi Prasetyo, S.H. Nomor 1 tanggal 9 Agustus 2002 dan disahkan oleh Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM Nomor:C-19302.HT.01.04.TH.2002 tanggal 7 Oktober 2002. 
PTPN IX memiliki  dua  divisi  yaitu  divisi  Tanaman  Tahunan yang membudidayakan  dan  menghasilkan  produk - produk dari tanaman karet, kopi, kakao dan teh dan divisi  Tanaman  Semusim  (Pabrik Gula)  yang  menghasilkan  produk - produk daritanaman tebu. Produk-produk PTPN IX dipasarkan di pasar domestik maupun pasar luar negeri sebagian besar dalam bentuk  bulk. PTPN IX juga memproduksi dan memasarkan produk-produk hilir berupa teh kemasan, teh celup serta gula pasir dan kopi bubuk dalam kemasan. 
Selain usaha pokok tersebut di atas,PTPN IX juga mengelola komoditisampingan seperti pala, kapok dan kelapa dalam luasan areal yang terbatas serta agrowisata di Kebun Banaran dan Kebun Kaligua dan juga adanya Wisata Loco Antik di PG Pangka  serta  wisata  sejarah  dan  Museum  Gula di PG Gondang Baru dan PGTasikmadu.  Hal lain yang dikembangkan oleh PTPN IX di era modern ini seperti CoffeeShop “Kampoeng Kopi Banaran”. Coffee Shop dengan bahan baku kopi Banaran jugadidirikan di Cikukun, di PG Gondang Baru. Wilayah kerja PTPN IX meliputi PropinsiJawa Tengah dengan jumlah kebun 15 unit dan jumlah Pabrik Gula (PG) 8 unit.Pembentukan dua divisi dalam pengelolaan tanaman perkebunana, yaitu :
1.      Divisi Tanaman Tahunan yang memiliki kantor pusat di Jalan Mugas Dalam(Atas) Semarang
2.      Divisi Tanaman Semusim yang  memiliki  kantor  pusat  di Jalan Ronggowarsito 164 Surakarta.

Divisi Tanaman Tahunan adalah divisi dari PT. Perkebunan Nusantara IX Persero yang membudidayakan dan menghasilkan produk-produk dari tanaman karet,  kopi,  kakao dan teh, sedangkan divisi  tanaman  semusim  adalah  divisi yang membudidayakan  dan menghasilkan produk dari tanaman tebu seperti gula.



2.2.   Tujuan Pendirian Perusahaan
            Diketahui bahwa setiap perusahaan  harus  mempunyai  pedoman  dasar dalam melakukan kegiatannya yang dapat diketahui oleh seluruh bagian atau komponen dari perusahaan tersebut agar sesuai dengan tujuan, oleh karena itu PTPN IX Kebun Getas mempunyai petunjuk atau pedoman yang termuat dalam Visi dan misi PTPN IX Kebun Getas, yang diadopsi dari Visi dan Misi PTPN IX, sesuai Surat Keputusan Administratur  No. Ngo/SK/Intern/59A/2006 tanggal 30 Juli 2006 adalah (Anonim, 2007)
1.      Visi
            Visi dari PTPN XI Kebun Getas ini adalah menjadikan PTPN IX Kebun Getas suatu perusahaan agrobisnis dan agroindustri yang tangguh, berkembang dan berwawasan lingkungan.
2.      Misi
            Misi dar PTPN XI Kebun Getas menncakup hal hal sebagai berikut :
a.      Memproduksi karet
b.      Melaksanakan pengolaan oprasional perusahaan dengan menggunakan teknologi tepat guna, sehingga produk yang di hasilkan mempunyai daya saing tinggi
c.       Memberdayakan seluruh sumber daya perusahaan dan potensi lingkungan guna mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, kemitraan yang sinergis dan perolehan keuntungan.
d.      Berupaya meningkatkan kesejateraan karyawan, menciptakan lingkungan kerja yang sehat, menyiapkan pelatihan yang up to date guna memotivasi karyawan dalam upaya meningkatkan produktivitaskerja
e.      Membantu program pemerintah untuk dapat meningkatkan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial dalam bentuk keterkaitan yang saling menguntungkan dan menunjang antara koperasi, swasta, dan BUMN.




2.3.      Budaya perusahaan
            Dengan prinsip GCG ( Good Corporate and Governance ) yang mencakup    Trasparancy, Indepedensi, Resposibility, Accountability dan Fairnes budaya perusahaan di rumuskan sebagai BUDAYA SEMPURNA yaitu :

S.       Service (pelaynan) terbaik untuk menjamin kepuasan pelanggan
      E.       Egualiter (kesetaraan) dalamhubungan anatara atasan dan bawahan untuk membangun saling percaya dan saling menghormati.
             M.      Memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan
              P.       Profesional dalam mengemban tugas dan tanggung jawab perusahaan
              U.      Unjuk kerja ditandai dengan peningkatan produktivitas kerja
              R.      Responsif terhadap perubahan lingkungan bisnis
              N.      Nilai nilai luhur perusahaan di pegang teguh untuk mengimplementasikan etika bisnis
              A.      Aspersiatif terhadap sesama insan perusahaan dan orang lain

2.4.       Tingkatan Jabatan Dalam Organisasi
1.      Administratur
2.      Sinder kepala / Hoff Tuin Opzichter (HTO)
3.      Sinder kantor
4.      Sinder teknik / teknologi
5.      Sinder kebun
6.      Mandor besar pengolahan
7.      Mandor besar teknik
8.      Mandor pengasapan
9.      Mandor penggilingan
10.  Mandor sortasi
11.  Mandor besar kebun
12.  Tap kontror kebun
13.  Mandor pemeliharaan
14.  Mandor sadap
15.  Pakam
                        Dari setiap jabatan yang ada, masing masing jabatan memiliki tugas kerja yang berbeda beda. Setiap jabatan telah memiliki tugas dan kewenangan yang telah di tentukan oleh pihak pabrik sesuai dengan prosedur yang ada.
                       







BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.   Kandungan Latex
Karet polimer hidrokarbon yang berbentuk susu yang di kenal sebagai latex.
Dalam latex terdapat berbagai jenis kandungan antara lain sebagai berikut :

a.       Kandungan karet
Dalam latex segar, karet berskisar sekitar  35,62 % dan pada latex yang sudah di keringkan karet memiliki kandungan 88,28 %. Sehingga karet merupakan kandungan terbesar dalam latex setelah di keringkan.
b.      Resin
Resin juga merupakan bagian dari latex. Resin merupakan kandungan lain selain kandungan karet dalam latex. Pada latex segar terdapat resin dengan jumlah 1,65 % sedangkan pada latex yang sudah di keringkan, terdapat resin dengan jumlah 4,10 %
c.       Protein
Protein juga adalah bagian dari latex. Protein merupakan bagian terbanyak kedua setelah karet yang terdapat di dalam latex. Pada latex segar, terdapat 2,03 % protein sedangkan pada latex kering terdapat 5,04 % protein di dalamnya.

d.      Abu
Pada kandungan latex juga terdapat sebagian kecil abu di dalamnya. Pada latex segar terdapat 0,70 kandungan abu, sedangkan pada latex kering terdapat 0,84 kandungan abu.
e.       Zat gula
Selain karet,protein, resin, dan abu, ternyata di dalam latex juga mengandung zat gula. Dimana pada latex segar terdapat 0,34 % zat gula, sedangkan pada latex kering masih terdapat 0,84% zat gula.
f.       Air
Dengan bentuk latex yang seperti susu, kita tidak dapat pungkiri bahwa kandungan terbesar di dalam latex segar adalah air. Pada latex segar, air memiliki jumlah lebih besar di bandingkan karet. Dalam latex segar, sekitar 59,62% kandungan air di dalamnya, sedangkan pada karet kering hanya terdapat 1,00 % kandungan air di dalamnya.
           
Dari beberapa kandungan yang terdapat di dalam latex, dapat kita lihat selain air semua kandungan yang terdapat di dalamnya lebih besar setelah di keringkan, (Anonim, 2010). 

3.2.  Biosintetis karet
Partikel murni (isopern) tersuspensi dalam serum lateks dan bergabung membentuk rantai panjanng yang di sebut “ poliisopren”
                        Gambar 1. Poliisopren, (Zuhra, 2006 )

Berat molekul karet yangterdapat dalam lateks untuk tanaman mudah kira kira 60.000 dan untuk tanaman tua sekitar 200.000. Karet dengan berat molekul rendah lebih dapat larut dibandingkan dengan karet yang memiliki berat molekul lebih tinggi dan ini memukinkan fraksionasi dari karet dengan perbrdaan kelarutan. Perbedaan karet yang dihasilkan dari dua variable adalah pada berat molekul dan bahan kimia non karet .
Proses biosintesis karet memerlukan tiga komponen utama yaitu :
1.      Asetil Co-A sebagai blok pengembang
2.      2TPNH sebagai agen pereduksi
3.      ATP sebagai sumber energy
Ketiga komponen ini di hasilkan oleh degradasi karbohidrat, adapun biosintesis karet dapat di gambarkan sebagai berikut :
Gambar 2. Biosintesis karet, (Zuhra, 2006 )

Rangkaian gambar di atas dapat di bagi dalam tiga tahap :
-          Tahap pertama : Asam mevalonat yang di sintesis dari 3 molekul asetil Co-A. Energi yang dihasilkan dari proses ini diperoleh 3 ikatan thio ester yang akan pecah untuk menghasilkan kembali Co-A bebas dan 2 molekul TPNH yang kemudian akan di oksidasi.
-          Tahap kedua : Perubahan asam mevalonat menjadi isopentenil- PP, unit pembangun dari poliisopren yang telah di peroleh. Pengaktifan dari asam mevalonat menghasilkan 3 molekul ATP dan reaksi dekarboksilasi
-          Tahap ketiga : terjadi sintesis rantai karbon poliisoprenoid, tidak ada tambahan sumber energi yang di hasilkan karena energi telah dihasilkan atau di sediakan oleh pengeluaran sebelumnya dari ATP. PP merupakan leaving group yang baik pada reaksi SN-2 yang berikutnya dan ini kemudian dihidrolisi menjadi orthophosphate menghasilkan reaksi kondensasi yang irreversible. PP ada di mana mana pada semua system yang di tinggal da yang telah di tunjukan pada lateks juga, (Zuhra, 2006).

3.3    Mastikasi
Mastikasi adalah proses awal dari pembuatan barang jadi karet. Proses ini merupakan proses penurunan berat molekul karet yang ditunjukkan oleh penurunan viskositas karet sehingga pencampuran bahan kompon, yang sebahagian besar adalah serbuk padat dengan karet dapat berlangsung dengan mudah dan merata. Penurunan berat molekul terjadi akibat rantai-rantai utama atau backbone dari karet diputus-putus yang berakibat viskositasnya menurun. Sebagai contoh pada proses mastikasi karet alam terjadi penurunan berat molekul yang lebih rendah (Bristow and Watson, 1963).
Proses mastikasi terdiri atas dua jenis yaitu :
1.      Mastikasi dingin.
Proses pelunakan dilakukan pada suhu di bawah 1000oC seperti dihepotesakan oleh Standinger dan Bondy serta oleh Kautman dan Eyring bahwa yang berperan dalam pemutusan rantai molekul pada mastikasi dingin adalah tenaga mekanis yang berasal dari gaya geser antara permukaan gilingan dengan karet. Pemutusan ikatan terjadi pada ikatan karbon-karbon dari rantai utama polimer.
2.      Mastikasi panas.
Proses pelunakan yang dilakukan pada suhu diatas 1000oC. Mastikasi ini lebih dominan berasal dari proses oksidasi yang dialami oleh rantai molekul karet (Bhuana, 1993).
3.4    Prakoagulasi
Pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam lateks masih berupa cairan, tetapi setelah kira kira 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan karet atau yang lebih dikenal dengan istilah prakoagulasi. Penyebab terjadinya prakoagulasi antara lain sebagai berikut:
1.      Penambahan Asam
Penambahan asam organik ataupun anorganik mengakibatkan turunya pH lateks sehingga lateks kebun membeku.
2.      Mikroorganisme
Lateks segar merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, mikroorganisme banyak terdapat dilingkungan perkebunan karet, mikroorganisme ini menghasilkan asam asam yang menurunkan pH, serta menimbulkan bau karena terbentuknya asam asam yang mudah menguap. Bila banyak organisme maka senyawa asam yang dihasilkan akan banyak pula. Suhu udara yang tinggi akan lebih mengaktifkan kegiatan bakteri sehingga dalam pemyadapan ataupun pengangkutan diusahakan pada suhu rendah atau pagi.
3.      Iklim
            Air hujan akan membawa zat kotoran dan garam yang larut dari kulit batang. Zat zat ini akan mengkatalisis terjadinya prakoagulasi. Lateks yang baru disadap juga mudah menggumpal jika terkena sinar matahari yang terik karena kestbilan koloidnya rusak oleh panas yang terjadi.
4.      Pengankutan
            Pengangkutan yang terlambat ataupun jarak yang jauh menyebabkan lateks baru tiba ditempat pengolahan pada siang hari dan sempat terkena matahari sehingga mengganggu kestabilan lateks. Jalan yang buruk atau angkutan yang terguncang guncang mengakibatkan lateks yang terangkut terkocok kocok secara kuat sehingga merusak kestabilan koloid.
5.      Kotoran atau bahan bahan yang tercampur
            Lateks akan mengalami prakoagulasi bila dicampur dengan air kotor, terutama air yang mengandung logam atau elektrolit. Prakoagulasi juga sering terjadi karena tercampurnya kotoran atau bahan lain yang mengandung kapur atau asam (Zuhra, 2006)


BAB IV
PROSES PENGOLAHAN KARET
4.1.      Proses Pembentukan Lembaran Karet 

4.1.1.      Penyadapan
                        Proses penyadapan ini dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 04.00 sampai pada pukul 08.00. setiap anggota kariawan yang bekerja pada kebun karet untuk melalukakan penyadapan telah diberi jatah sekian pohon untuk di sadap dan dan di tampung sesuai waktu yang di tentukan oleh pihak pabrik.
Gambar 3. Proses penyadapan, (dok. KTI )


                        Hasil sadapan ini berupa lateks yang di tampung dalam sebuah wadah besar. Dari hasil penelitian kami, setiap satu anggota kariawan yang melakukan penyadapan di kebun karet sekitar pabrik,  telah di tentukan banyaknya karet yang harus di antarkan setiap harinya kepada pabrik.
                        Setiap kariawan selalu membawa kurang lebih 2-3 jergen setiap harinya, karena pihak pabrik telah memperkirakan banyaknya karet yang harus masuk setiap hari untuk memenuhi pasokan permintaan konsumen. Jadi setiap harinya karet hasil sadapan harus memenuhi bak bak yang di gunakan untuk menggumpalkan karet.


4.1.2        Pengangkutan Latex Segar
                        Proses pengangkutan lateks segar ini dilakukan dengan bervariasi olah para kariawan pabrik. Kariawan yang bekerja pada kebun karet yang berada di sekitar pabrik, mereka menampung cairan lateks tersebut dengan menggunakan jergen, kemudian mengangkutnya dengan kendaraan pribadi dan ada juga kariawan yang mengangkut lateks hasil sadapan dengan memikul serta berjalan kaki menuju pabrik.
                        Selain dengan menggunakan kaendaraan pribadi dan berjalan kaki, pihak pabrik telah menyediakan sekian truk untuk mengangkut hasil penyadapan karet yang diambil dari kebun karet yang jauh dari pabrik tersebut yang telah di lengkapi dengan tangki besar untuk menampung lateks segar yang ada pada kebun karet tersebut.

4.1.3        Penerimaan lateks
                        Lateks hasil sadapan yang berasal dari kebun kebun karet, yang diangkut dengan berbagai cara oleh para kariawan yang kemudian diantarkan kepabrik karet. Dipabrik karet ini telah disediakan tempat atau bak penampungan untuk menampung semua hasil penyadapan oleh anggota kariawan yang berbentuk lateks. Sebelum di masukan ke dalam bak penampungan, lateks sebelumnya di tambahkan Amonia. Proses penambahan ammonia tersebut di tambahkan untuk mencegah terjadinya proses penggumpalan oleh latex itu sendiri.
                        Lateks yang sudah di tambahkan Amonia kemudia di tuangkan ke bak penampungan untuk di saring terlebih dahulu. Proses penyaringan ini di lakukan untuk menyaring adanya bahan bahan campuran seperti plastik, daun daun, karet yang menggumpal dan masih banyak lagi kandungan yang lainnya. Lateks hasil saringan ini kemudian di tampung lagi dalam sebuah wadah atau bak yang berbentuk sumur.
                        Pada wadah yang berbentuk sumur ini semua karet hasil penyaringan di tampung untuk diaduk agar supaya busa dari lateks tersebut dapat diambil dan di buang. Dari hasil penelitian kami, Pabrik Getas menyediakan tiga buah wadah berbentuk sumur untuk memnampung hasil dari lateks yang di kumpulkan dari kebun karet.



4.1.4        Ketersediaan Air Bersih
            Tersedianya air bersih adalah salah satu bagian terpenting dari proses pengolahan lateks menjadi lembaran karet. Ketersediaan air ini sangat berpengaruh terhadap hasil yang di dapatkan. Pada proses pengolahan lateks, air yang di perlukan harus mengalir setiap saat, karena semuah kebersihan tempat pengolahan akan di bersikan dengan menggunakan air, sehingga karet tidak mudah lengket pada wadah atau bak bak penampungan cairan lateks .
                        Pihak Pabrik Getas, telah menyediakan air bersih sesuai prosedur yang ada. Air bersih ini selain digunakan untuk proses pembersihan tempat pengolahan, air bersih ini di gunakan untuk merendam lateks yang di tampung dalam wadah atau bak yang di beri sekat sekat, dan juga di gunakan untuk mengalirkan lateks yang telah di gumpalkan ketempat penggilingan. Pihak pabrik Getas mendapatkan air dari sumber mata air di daerah Sembir Salatiga, yang di sedot dengan menggunakan mesin pompa air sehingga air yang di gunakan dapat mengalir dengan kencang.

4.1.5        Pengaliran Cairan Lateks
                        Pada pengolahan cairan lateks, cairan lateks yang sudah di saring dan di beri ammonia di alirkan melalui wadah panjang terbuka kurang dengan lebar kurang lebih 20 centi meter. Ciran lateks tersebut di alirkan dan kemudian di tampung dalam 40 (empat puluh) wadah atau bak yang di beri 26 (dua puluh enam) sekat yang telah di bersikan sebelumnya.

                        Wadah atau bak pengaliran cairan lateks ini di beri lubang setiap satu meter, untuk memudahkan kariawan dalam menampung cairan lateks tersebut pada wadah tempat untuk menggumpalkan karet. Setiap anggota kariawan menggunakan potongan potongan pengalir cairan ini untuk menampungnya di wadah berikutnya. Panjang dari potongan potongan tersebut kurang lebih dua meter.


4.1.6        Proses penggumpalan
                        Proses penggumpalan adalah proses untuk menggumpalkan cairan lateks  yang akan membentuk  persegi panjang dengan panjang kurang lebih 1 – 1,5 meter. Sebelum di gumpalkan, cairan lateks sebelumnya di alirkan dan di tampung kedalam wadah atau bak yang memiliki panjang 2 -2,5 meter dan lebar 1 – 1,5 yang kemudian di beri 26(dua puluh enam) sekat untuk membentuk 26 (dua puluh enam) lembaran gumpalan lateks.
            Gambar 4. Bak penampung dengan sekat, (dok. KTI )


                        Lateks yang di tampung pada bak tersebut mempunyai ukuran banyaknya cairan lateks yang akan di tampung pada wadah tersebut. Wadah atau bak penampung tersebut memiliki tinggi 75 ( tujuh puluh lima) centi meter, sedangkan setiap wadah hanya dapat di isi kurang lebih 24 (dua puluh empat) centi meter cairan lateks untuk di gumpalkan. Setelah wadah atau bak tersebut di isi dengan ukuran tersebut, maka 1 centi meternya di isi dengan asam semut. Berarti semua cairan dalam wadah tersebut memiliki tinggi 25(dua puluh lima) centi meter yang berisi lateks dan asam semut itu sendiri, kemudian cairan dalam wadah tersebut diaduk sebanyak empat kali adukan secara bertahap .
Gambar 5. Proses pengadukan, ((dok. KTI )


                        proses pengadukan ini bertujuan untuk mengambil busa busa cairan lateks yang kemudian di buang pada tempat pembuangan yang tersalur pada penampungan limbah. kemudian sekat sekat tesebut di pasang dengan antara setiap sekatnya kurang lebih 20 (dua puluh) centi meter.

                        Proses penambahan asam semut disini, bertujuan untuk mempercepat penggumpalan lateks. Setelah proses pemasangan sekat selesai, wadah tersebut di tutup dengan menggunakan terpal untuk mencegah terjadinya oksidasi oleh udara. Dengan menunggu sekitar satu jam, lateks tersebut dengan sendirinya akan menggumpal. Kemudian lateks yang telah menggumpal pada wadah tesebut di isi air, dengan tujuan lateks tersebut tidak melekat pada wadah tersebut sehingga mudah untuk di angkat dan di keluarkan. Dengan menunggu sekitar satu jam, barulah karet di angkat kemudian di alirkan dengan air pada tempat penggilingan.



4.1.7        Proses penggilingan
                        Proses penggilingan di lakukan setelah menunggu satu jam gumpalan karet yang di diamkan pada pengaliran menuju alat penggilingan. Setelah menunggu kurang lebih satu jam, barulah gumpalan lateks tersebut di giling sehingga membentuk lembaran lembaran karet dengan ketebalan pada setiap lembaran karet tersebut setebal tiga centi meter.
Gambar 7. Lembaran karet basah, (dok. KTI )

                        Lembaran lembaran karet hasil penggilingan tersebut kemudian di keringkan dahulu sebelum diangkut ke proses pengasapan. Lembaran lateks yang di giling tersebut harus berbentuk lembaran panjang dan di usahakan supaya tidak terbentuk lembaran pendek. Lembaran karet tersebut tudak membentuk lembaran rata, akan tetapi lembaran terbentuk dengan lembaran berbintik bintik yang telah di buat pada alat penggilingan. Proses pembuatan bintik bintik ini supaya karet tidak mudah rusak oleh jamur dan pengaruh lainya. Setelah kering, kemudian lembaran karet di angkut ke ruang pengasapan.

4.2.      Proses pengasapan 
            Proses pengasapan adalah proses yang di lakukan untuk merubah warna lembaran karet dari warna putih menjadi warna cokelat. Pada proses pengasapan ini juga di lakukan untuk mengeringkan lembaran karet. Proses pengasapan di lakukan pada sebuah ruangan yang di sebut kamar asap. Proses pengasapan di lakukan sebanyak lima hari dengan bahan bakar yang di gunakan adalah kayu karet 2,5 sampai dengan 3 M3 / ton setiap harinya.
Gambar 6. Kamar asap, (dok. KTI )


            Setiap harinya proses pengasapan di lakukan dengan kemar asap yang mempunyai suhu yang berbeda beda. Suhu kamar sesuai hari lembaran karet dalam kamar asap sebagai berikut :
-          Hari pertama suhu yang digunakan adalah 40 derajat celcius
-          Hari kedua suhu yang digunakan adalah 45 derajat celcius
-          Hari ketiga suhu yang digunakan adalah 50 derajat celcius
-          Hari keempat suhu yang digunakan adalah 55 derajat celcius
-          Hari kelima atau hari terakhir suhu yang digunakan adalah 60 derajat celcius
            Setiap kamar asap, suhu tidak boleh kurang atau lebih. Jika suhu kurang atau melebihi suhu yang di tentukan, maka akan sangat berpengaruh pada hasil yang didapatkan. Setelah lima hari berada di dalam kamar asap, kemudian lembaran lembaran karet di angkut keruang sortasi dengan warna lembaran karet yang sudah ditentukan dan layak masuk kedalam ruang sortasi.
4.3.      Sortasi
            Sortasi adalah proses pengumpulan lembaran lembaran karet sebelum pengepakan. Pada ruang sortasi ini lembaran lembaran karet akan di pisahkan sesuai warna dari karet yang di sebut Riber Smoked sheat dan di singkat dengan RSS. Dalam proses sortasi, lembaran karet di bedakan dengan empat RSS yaitu RSS 1, RSS 2, RSS 3, dan RSS 4.
            Setiap RSS di bedakan dengan warna dari lembaran karet tersebut. RSS 1,2,3, dan 4 mempunyai warna sama yaitu warna cokelat tetapi ada perbedaan di setiap RSS seperti contoh RSS1 lebih cokelat di bandingkan RSS4 yang mempunyai warna cokelat kehitaman, begitu juga pada RSS2 dan RSS3 dimana keempatnya mempunyai warna mirip namun berbeda. Setelah proses pembedaan di setiap RSSnya, di lakukan proses selanjutnya yang dinamakan cutting atau proses pengguntingan.
            Proses cutting juga dilakukan di dalam ruang sortasi. Proses cutting, dilakukan pemeriksaan terhadap karet karet yang rusak. Kerusakan pada karet dapat di lihat dengan adanya warna putih pada lembaran lembaran karet dengan menggunakan lampu neon warana putih, kemudian lembaran karet yang mempunyai warna bintik bintik putih di dalamnya akan di gunting. Lembaran karet yang bersih dari bintik bintik berwarna putih di simpan sesuai warna RSS masing masing dan lembaran karet yang memiliki warna bintik bintik putih di simpan untuk di daur ulang.

4.4.      Pengepakan
            Proses pengepakan dilakukan di dalam ruang sortasi. Pengepakan di lakukan dengan melakukan penimbangan terlebih dahulu. Untuk RSS yang utuh berat yang harus di timbang untuk pengepakan adalah 113/ ball, sedangkan untuk cutting 116 / ball. Namun setiap pengepakan tidak semuanya mempunyai berat seperti yang di tentukan di atas. Berat dari pengepakan dapat di sesuaikan dengan pesanan pemasok. Sebelum di lakukan pengepakan, lembaran karet tersebut di pres terlebih dahulu dan kemudian dilakukan pengepakan setelah itu lembaran karet tersebut dibungkus yang dinamakan pembungkusan ball dan di beri merk.
Gambar 7. Proses pengepakan, (dok. KTI )


4.5.      Pengiriman
            Proses pengiriman di lakukan setelah dilakukan pemberian merk. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan truk yang telah di sediakan oleh pihak pabrik yang kemudian di berikan kepada pemasok barang tersebut.


BAB V
PEMBAHASAN
5.1.      Pengelolaan Lingkungan

5.1.1.      Instalasi yang Bertanggung Jawab Terhadap Pengelolaan Lingkungan Pabrik Getas
                  Instalasi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan pabrik getas adalah bagian rumah tangga dan dan instalasi sanitasi. Adapun tanggung jawab bagian rumah tangga antara lain :
-          Kebersihan luar gedung
-          Kebersihan ruang kebersihan
-          Kebersihan tanaman
-          Urusan pemeliharaan
-          Urusan ketertiban dan keamanan lingkungan
-          Urusan administrasi

Sedangkan tugas pokok dan fungsi instalasi sanitasi adalah :
a.       Tugas pokok instalasi lingkungan
            Tugas pokok instalasi lingkungan adalah fisik dan biologis pabrik karet yang memenuhi standart, baku mutu lingkungan serta mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, (Anonima, 2008).
b.      Fungsi instalasi lingkungan
·         Melakukan kegiatan pengawasan terhadap faktor lingkungan, biologi, kimiawi serta radiasi di pabrik karet
·         Melakukan kegiatan pengawasan dan pengendalian terhadap sumber pencemar.
·         Melakukan kegiatan pemantauan dan pengendalian terhadap hewan hewan pengganggu seperti tikus dan lain lain
     
            Dalam melaksanakan tugas urusan kebersihan pabrik karet berdasarkan pada peraturan dan petunjuk pelaksana. Petunjuk pelaksana kerja di tujukan kepada masing masing petugas sampah yang di dalamnya berisi daerah masing masing dan lamanya waktu kerja, serta jadwal membersikan lingkungan tempat kontainer karena di sekitae kontainer terdapat sampah sampah yang tercecer. Sedangkan untuk pemeliharaan kebersihan di dalam gedung atau taman, pihak pabrik telah memasang slogan slogan yang berisi peringatan atau larangan dan ajakan menjaga kebersihan. Slogan slogan tersebut dipasang pada tempat tempat strategis yang banyak di kunjungi, misalnya daerah sekitar pengasapan, ruangan pengolahan lateks, taman dll, (Anonima, 2008)
5.2.      Proses Pembentukan Lembaran Karet
            System pengolahan lembaran karet di dasarkan pada kekurangan kekurangan yang ada selama penelitian kami dan juga berdasarkan pada teori literatur yang sudah ada.

5.2.1.      Ruangan pembentukan lembaran karet dan Karyawan pabrik
            Pada proses pengolahan pembentukan lembaran karet ini masih banyak kami temui hal hal yang sepele tetapi membahayakan. Kurang tegasnya mandor yang bekerja di dalam rungan pembentukan lembaran dan area ruang pengasapan menjadi salasatu faktor yang akan menimbulkan kejadian yang tidak di inginkan seperti kebakaran dan lain lain yang di sebabkan oleh anggota karyawan yang sering merokok dalam proses pembuatan lembaran karet tersebut.
            Karyawan yangbekerja di dalamnya diberikan kebebasan untuk merokok, walaupun pada ruangan pembentukan lembaran karet banyak air yang mengalir untuk mencegah hal tersebut, tetapi bagaimana dengan area sekitar kamar asap, di mana anggota kariawan baik yang mengankut karet ke dalam kamar asap maupun yang melintas semuanya bebas merokok di daerah tersebut. Padahal jika kami lihat, sumber air berada sekitar dua puluh meter dari tempat itu. Jika terjadi hal hal yang tidak di inginkan seperti kebakaran, maka hal tersebut akan sulit untuk di atasi dengan jarak sumber air dan daerah tempat kejadian yang berjarak seperti itu.

5.2.2.      Pengolah lateks
Lateks kebun akan menggumpal atau membeku secara alami dalam waktu beberapa jam setelah dikumpulkan. Penggumpalan dapat disebabkan oleh timbulnya asam-asam akibat terurainya bahan bukan karet yang terdapat dalam lateks akibat aktivitas mikroorganisme. Hal itu pula yang menyebabkan mengapa lump hasil penggumpalan alami berbau busuk. Selain itu, penggumpalan juga disebabkan oleh timbulnya anion dari asam lemak hasil hidrolisis lipid yang ada di dalam lateks. Anion asam lemak ini sebagaian besar akan bereaksi dengan ion magnesium dan kalsium dalam lateks membentuk sabun yang tidak larut, keduanya menyebabkan ketidakmantapan lateks yang pada akhirnya terjadi pembekuan. Prakoagulasi merupakan pembekuan pendahuluan tidak diinginkan yang menghasilkan lump atau gumpalan-gumpalan pada cairan getah sadapan.

Pencegahan prakoagulasi, pengawetan lateks kebun mutlak diperlukan, terlebih jika jarak antara kebun dengan pabrik pengolahan cukup jauh. Zat yang digunakan sebagai bahan pengawet disebut dengan zat antikoagulan. Syarat zat antikoagulan adalah harus memiliki pH yang tinggi atau bersifat basa. Ion OH- di dalam zat antikoagulan akan menetralkan ion H+ pada lateks, sehingga kestabilannya dapat tetap terjaga dan tidak terjadi penggumpalan. Terdapat beberapa jenis zat antikoagulan yang umumnya digunakan oleh perkebunan besar atau perkebunan rakyat diantaranya adalah amoniak, soda atau natriumkarbonat, formaldehida serta natrium sulfit.

Dalam hal proses pengolahan lateks di tempat pengolahan atau pabrik, biasanya memiliki urutan kerja tertentu untuk menghasilkan hasil olah lateks berupa lembaran (sheet). Pengolahan sheet oleh perkebunan dilaksanakan di pabrik pengolahan dengan menggunakan peralatan yang lebih baik dan dengan kapasitas yang lebih besar. Oleh karena itu, sheet yang dihasilkan berkualitas tinggi. Standar kualitas yang tinggi tersebut dapat dicapai karena proses pembuatannya dilaksanakan sesuai dengan persyaratan pengolahan yang memenuhi standar. Pekerjaan tersebut meliputi :
1.      Penerimaan lateks
Lateks hasil penyadapan yang berasal dari berbagai bagian kebun diangkut dengan tangki yang ditarik truk ke pabrik. Dipabrik lateks diterima dan di campur dalam bak penerimaan. lateks yang dimasukan ke dalam bak penerimaan harus disaring terlebih dahulu untuk mencegah aliran lateks yang terlalu deras dan terbawanya lump atau kotoran lainnya. Saringan tersebut terdiri dari saringan kasar dan sedang,yang terbuat dari alumunium. Dari lateks yang telah terkumpul dalam bak penerimaan diambil contoh atau sampel untuk mengetahui kadar karet keringnya. Hal ini penting untuk memperhitungkan kebutuhan air dalam proses pengenceran lateks.

2.      Pengenceran lateks
Pengenceran lateks atau memperlemah kadar karet adalah menurunkan kadar karet yang terkandung dalam lateks sampai diperoleh kadar karet yang terkandung dalam lateks sampai diperoleh kadar karet baku sesuai dengan yang diperlukan dalam pembuatan sheet, yaitu sebesar 13%, 15%, 16%, atau20% sesuai dengan kondisi dan peralatan setempat. Adapun maksud dari pengenceran lateks adalah:

Ø  untuk melunakkan bekuan, sehingga tenaga gilingan tidak terlalu berat
Ø  memudahkan penghilangan gelembung udara atau gas yang terdapat dalam lateks
Ø  memudahkan meratanya koagulum (asam pembeku) yang dibutuhkan untuk proses koagulasi

3.      Pembekuan lateks
Pembekuan atau koagulasi bertujuan untuk mempersatukan butir butir karet yang terdapat dalam cairan lateks, supaya menjadi satu gumpalan atau koagulum. Untuk membuat koagulum ini lateks pelu dibubuhi obat pembeku(koagulan) seperti asam semut atau asam cuka. Menurut penelitian, terjadinya poses koagulasi adalah karena terjadinya penurunan pH. Lateks segar yang diperoleh dari hasil sadapan mempunyai pH 6,5. supaya tidak terjadi pengumpalan,pH yangmendekati netral tersebut harus diturunkan sampai 4,7. Pada kemasaman ini tercapai titik isoelektris atau keseimbangan muatan listrik pada permukaan pertikel pertikel karet, sehingga partikel partikel karet tersebut dapat menggumpal menjadi satu. Penurunan pH ini terjadi dengan membubuhi asam semut 1% atau asam cuka 2% ke dalam lateks yang telah diencerkan.

4.      Penggilingan
Koagulum yang didapatkan dari lateks tersebut di ambil dan digiling dengan mesin penggiling manual atau otomatis. Mesinpenggiling tersebut terdiri dari mesin penggiling halus dan mesin penggiling cetakan. Tujuan dari gilingan ini adalah

Ø  Mengubah koagulum menjadi lembaran lembaran yang mempunyai lebar, panjang dan tebal tertentu
Ø  Untuk mengeluarkan serum yang terdapat di dalam koagulum



5.      Pengeringan
Lembaran lembaranyang telah dihasilkan dari mesin penggiling selanjutnya akan dikeringkan dengan cara dijemur pada selayan selayan di pabrik.

5.3.      Sortasi
            Dalam proses pengolahan karet, tidak akan lepas dari hal hal yang berbau kontaminan terhadap hasil lembaran yang di dapatkan. Kontaminan mempunya pengaruh yang sangat besar terhadap pengurangan kualitas yang di dapatkan pada hasil lembaran karet. Dari hasil pengamatan kami di pabrik karet getas, hanya terdapat kaca yang di terangi lampu neon untuk melihat bintik bintik putih pada karet. Minimnya alat pendeteksi kontaminan ini merupakan hal yang tidak di perhatikan oleh pihak pabrik.
                 
            Ada beberapa cara untuk menanggulangi bahaya kontaminan pada lembaran karet. Cara tersebut dengan melakukan metode teknik deteksi dini kontaminasi antara lain sebagai berikut :

1.                  Deteksi kontaminan dengan Metode Ultrasonik
Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik/akustik dengan frekuensi di atas 20 Hz, sehingga tidak terdengan oleh telinga manusia. Gelombang bunyi (sonik) memiliki daerah frekuensi 20 Hz sampai 20 kHz sehingga masih dapat didengar. Pada frekuensi 20 Hz, manusia kembali tidak mampu menangkapnya. Gelombang akustik pada kondisi ini disebut infrasonik. Untuk menghasilkan gelombang ultrasonik diperlukan suatu transduser, dimana tegangan listrik yang diterima oleh transduser akan diubah menjadi gelombang mekanik. 
Aplikasi gelombang ultrasonik sudah sedemikian luas sejak dimulai penggunaanya pada PD II untuk mendeteksi kedalaman laut. Saat ini teknologi ultrasonik banyak digunakan di bidang-bidang Kedokteran, Geologi dan Industri. Kecepatan gelombang, amplitudo dan panjang gelombangnya di dalam medium yang dilewatinya berbeda satu dengan yang lain tergantung sifat-sifat elastis medium yang dilewatinya, sehingga gelombang ultrasonik disebut juga sebagai gelombang elastis. Sifat elastis ini tentu saja dipengaruhi oleh jenis bahan, komposisi, densitas dan sifat internal lainnya (Döring, 1998). 
Gelombang adalah penjalaran suatu gangguan (disturbance) melewati suatu medium dimana medium tersebut akan kembali ke kondisi semula setelah gangguan melewatinya. Medium yang dilewati bisa berupa material padat, cair atau gas, sedangkan gelombang yang menjalarinya dapat berupa gelombang mekanik seperti bunyi, getaran tali, dan riak permukaan air, atau gelombang eletromagnetik seperti gelombang radio, sinar IR dan UV. 
Pada saat gelombang merambat, medium yang dilewatinya akan mengalami getaran. Gelombang yang arah rambatannya tegak lurus terhadap arah getaran disebut sebagai gelombang transversal, sedangkan yang berarah sama dengan arah getarannya disebut sebagai gelombang longitudinal. 
Gelombang mekanik jika mengenai suatu medium akan mengalami perubahan arah atau penguraian, yakni kemungkinan gelombang akan dipantulkan dengan arah gelombang memenuhi hukum-hukum pemantulan, kemungkinan lain adalah gelombang akan diteruskan dan dibiaskan. Pembiasan tidak akan terjadi jika arah gelombang tegak lurus permukaan medium. Kecepatan gelombang, amplitudo dan panjang gelombangnya di dalam medium berbeda satu dengan yang lain tergantung sifat-sifat elastik medium yang dilewatinya, sehingga gelombang ultrasonik disebut juga sebagai gelombang elastik. 
Penelitian aplikasi Ultrasonik di Bidang Komposit-Polimer juga telah mulai banyak dilakukan, antaralain White, et al. (2002) melakukan percobaan untuk mengamati proses vulkanisasi senyawa DGEBA-DDS Epoksi dan komposit serat gelas dengan gelombang ultrasonik pada 1.85 MHz. Diperoleh informasi bahwa kecepatan gelombang longitudinal meningkat dengan kenaikkan suhu vulkanisasi. Kecepatan gelombang konstan pada pada saat polimer sudah berada pada kondisi termoset yang stabil. Penelitian serupa telah pula dicoba dilakukan oleh Doring dan Stark (1998) untuk resin Urea-Formaldehid, Melamin-Formaldehid, dan Epoksi. 
Selain untuk keperluan monitoring jalannya suatu proses, gelombang ultrasonikpun telah dicoba untuk keperluan sintesa. Levin, et al. (1996) melaporkan telah berhasil mensintesa unvulcanized rubber dengan cara devulkanisasi karet ban bekas, sedangkan Turkachinsky, et al. (1996) melakukan penelitian serupa namun untuk vulkanisat karet SBR pada 20 kHz sampai 50 kHz. Melalui proses devulkanisasi, ikatan-ikatan silang sulfur didegradasi, sehingga sebagian vulkanisat kembali ke kondisi sebelum tervulkanisasi. Ultrasonik juga dapat digunakan untuk mencari parameter elastik suatu bahan, seperti modulus Young, modulus geser, modulus bulk, dan perbandingan Poisson, antara lain telah dilakukan oleh Trombino (1998) untuk komposit tanah gambut, dengan menggunakan transduser 500 kHz, dan oleh Navarrete, et al. (1998) untuk campuran karet-silika pada 240 kHz.
Gambar  8. Skema peralatan untuk uji ultrasonic, (http://kdei- taipei.org/banner/karet.htm)

2.      Deteksi Kontaminan dengan Metode Kimia
Gelombang Infra Red, salah satu ukuran panjang gelombangnya dikenal dengan nama FTIR. Cara kerja gelombang IR mirip dengan sinar X, hanya berbeda pada panjang gelombang dan amplitudo. FTIR dikenal sebagai teknik yang sering digunakan untuk mengamati jenis gugus fungsi molekul yang terkandung di dalam komposit, sehingga diharapkan bisa membedakan struktur molekul karet mentah dan kontaminan vulkanist (Indian Rubber institute, 1998)
Kelebihan penggunaan metode NIR antara lain banyak komposisi kimia dari bahan pangan/pertanian yang menyerap (absorpsi) atau memantulkan (reflektan) cahaya pada rentang panjang gelombang 0.7-3 mm. Protein, air, asam, lemak, gula dan senyawa kimia lainnya memiliki pola serapan yang khas yang berbeda satu dengan lainnya pada setiap panjang gelombang cahaya. Perbedaan pola serapan tersebut terutama karena berbedanya geometri maupun jumlah atom yang terletak pada ikatan CH,OH,CHO atau NH.
Berdasarkan pertimbangan kemampuan metode NIR tersebut di atas, maka metode NIR berpotensi diaplikasikan untuk analisis komposis lateks maupun karet padat. Kemungkinan penyajian sampel ujinya harus cukup tipis agar pancaran gelombang elektromagnetiknya tidak banyak terserap oleh bahan.
Jika karet telah mengalami vulkanisasi, maka akan terjadi perubahan struktul molekul. Namun perubahan tersebut tidak cukup bagi sinar infra-red untuk merubah pantulan gelombang elektromagnetiknya. Sehingga masih terdapat kemungkinan bahwa sinar IR belum dapat mendeteksi adanya kondungan kontaminan berupa vulkanisat di dalam bahan olah karet. Untuk memastikannya diperlukan percobaan laboratorium untuk menguji spektrum sinar IR yang melewati bahan olah karet yang bersih (kontrol) dan bahan olah karet yang terkontaminasi dengan vulkanisat
Gambar 9. Peralatan FTIR untuk analisi komposisi kimia,
(http://kdei- taipei.org/banner/karet.htm)



3.      Deteksi Kontaminan dengan Metode Kimia Sederhana

Teknik kimia gel-sulfur, merupakan teknik yang sederhana, sudah biasa digunakan untuk menganalisis kandungan bahan yang telah tervulkanisasi. Pada teknik ini dilakukan pelarutan sampel bokar dengan menggunakan solvent khusus. Selanjutnya diamati warna larutan, kekeruhan, dan ada tidaknya fraksi yang tidak terlarut. 
Jika di dalam bokar terkandung vulkanisat, maka kelak karet mentah akan larut sempurna, sedangkan vulkanisatnya akan menjadi gel yang tidak bisa larut, atau larutan menjadi keruh. Besarnya nilai gel content diharapkan menjadi petunjuk keberadaan kontaminan di dalam karet . Selain itu jika ditemukan bokar mengandung sulfur dalam jumlah tertentu, maka diindikasikan karet telah mengalami proses vulkanisasi (Gent, 1993).
Deteksi kontaminan dengan menggunakan cara kimia bersifat sampling, sehingga di dalam prakteknya perlu dilakukan pengambilan contoh bokar cukup banyak agar hasil analisisnya kelak mampu mewakili keseluruhan bokar yang diterima oleh pabrik pengolahan karet.
Gambar 10. Peralatan uji kimia kelarutan dan kadar sulfur bebas,
                         (http://kdei- taipei.org/banner/karet.htm)


            Metode - metode di atas dapat mendeteksi dan juga dapat mencegah kontaminan secara dini. Dan juga pihak pabrik harus mengupayakan pengadaan Laboratorium dalam proses untuk menjalankan metode metode tersebut, karena dari data yang ada pihak pabrik Getas Salatiga belum memiliki sarana laboratorium.


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.   KESIMPULAN
a)      Proses pemanenan lateks pada kebun Getas Salatiga dilakukan sesuai dengan standard baku mutu yang ada
b)      Pabrik karet Getas salatiga tidak memiliki sarana laboratorium
c)      Analisis air limbah pada Pabrik Getas Salatiga dilakukan di Dinas Kesehatan Balai Laboratorium Kesehatan Semarang
d)     Metode analisis yang digunakan untuk air limbah pabrik karet Getas Salatiga menggunakan metode Spektrofotometri, Potensiometri, Nesler, Iodometri, Reflux tertutup, dan Vanadatmolibdate

6.2.   SARAN
a)      Perlu adanya ketegasan pihak pabrik untuk mengingatkan karyawan untuk tidak merokok pada saat proses pengolahan lateks menjadi lembaran karet
b)      Perlu adanya sarana prasarana laboratorium Pabrik Karet Getas Salatiga
c)      Perlunya petugas khusus di tempat penampungan limbah yang merangkap sebagai petugas sanitasi
d)     Perlu adanya alat deteksi kontaminan yang proses pengerjaanya sudah memakai fasilitas computer
                               






                       

Tidak ada komentar: